Malam yang Jatuh di Matamu

Malam yang jatuh di matamu
Menghantar tangis begitu bengis
Anggap isakan sebagai rindu
Di mana sesak serasa manis

Dzikir sesekali kau beli
Sebagai dongeng pengantar tidur
Biar lelap menyambangi
Menutup segala mimpi yang terlanjur
Menghatur.

Kuyup aroma pagi
Terguyur embun bening menghayati
Sewarna pelangi di titian sunyi
Memburu sepi di dada hari
Esok datang membawa elegi
Haturkan pada mati.

Bangkalan, 30 Maret 2016.

Merah dan Muda

Ingatkah kenangan pada aku dan kau yang gagal menjelma kita, disore merah merona didadaku, yaa seonggak airmata muda tak hendak mengalir, hanya menetes mendanau, bukan toba namun duka.

Disela sesungguk mesra, menyalin kisah dijubah waktu, kita (yang tak pernah menjadi) sama terpaku pada gelak yang berserak. Tunggu, kulihat mata elangmu seketika menghilang. Dimana kau sembunyikan mata yang mempesonakan aku sekian kali, hingga hati menyerah diri.

Adalah langkahmu mula mengalunkan rindu, disela tolehanmu pada perpisahan dahulu. Aku tak hendak beranjak, hingga hujan menghujam dan menyuruhku pulang. Ada cekikik sembilu disela pernikahan hujan dan panas hari itu, kau pasti tak tahu.

Merah yang tak lagi muda kini diberanda, hantarkan hujan dan panas pengantin anyar, yang telah talak tiga isunya.
aku percaya saja, sebab aroma wajahnya nyatakan semua
Seperti aroma wajah kita dipersimpang takdir dahulu kala.

pojok kota-tengah desa, 2015

Oleh. Putry Kata

Tinggalkan Balasan