Dalil Hukuman Pindah Agama (Tanggapan Terhadap Mun’im Sirry)

“Tak Ada Dalil Hukuman Pindah Agama” (GeoTimes, 19 Juli 2019) yang tulis Mun’im Sirry sangat menarik untuk dikaji dan ditelaah kembali, apalagi bagi seorang santri seperti saya. Sebab, dalam kitab-kitab fikih –yang saya pelajari di pesantren– disebutkan bahwa hukuman bagi orang murtad (pindah agama dari Islam pada selain Islam) adalah dibunuh jika menolak bertobat.

Dalam tulisan tersebut, Mun’im Sirry berkesimpulan bahwa tidak ditemukan dalil yang menunjukkan hukuman duniawi bagi orang murtad, baik dari Alquran maupun Sunnah. Meskipun ada, namun bermasalah di dalam penerapannya. Dia juga menyangkal ulama yang berdalih dengan praktik para shahabat Nabi SAW di dalam merespon kemurtadan –seperti pada masa Sayidina Abu Bakar ra.

Mun’im Sirry mengutip banyak ayat untuk mendukung statemennya. Di ataranya adalah QS. 2: 217 yang menyebutkan: “Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Dari ayat tersebut (dan ayat lain) dia berksimpulan bahwa yang ada hanya konsekuensi ukhrawi bukan duniawi. Artinya, di dalam Alquran sama sekali tidak ditemukan hukuman mati bagi orang murtad.

Persepsi Mun’in Sirry tersebut sama sekali tidak berdalih. Tidak ada satu pun ulama fiqh yang menjadikan ayat di atas (dan ayat lain yang dia kutip) sebagai dalil hukuman mati bagi orang murtad. Ayat tersebut oleh para ulama dijadikan dalil keharaman pindah agama dari Islam pada selain Islam. Dalam teori ilmu ushul fiqh, di antara yang menunjukkan suatu itu haram hukumnya adalah adanya ancaman (tahdîd) –seperti ayat di atas.

Dengan demikian, kesimpulan Mun’in Sirry adalah cacat secara metodologis. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an, menyebutkan:فَالْآيَةُ تَهْدِيدٌ للمسلمين ليثبتوا على دين الإسلام“Ayat tersebut merupakan sebuah ancaman bagi orang Islam agar selalu menetapi agama Islam.”Konsekuensi hukuman bagi orang murtad dibicarakan dalam Sunnah Nabi SAW.

Di antaranya adalah hadis, “Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah.”Hadis ini dimuat dalam kitab Shahih Bukhari, sehingga keotentikannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Mun’im Sirry pun demikian, dia hanya menemukan masalah di dalam penerapannya.Masalahnya adalah lafadz hadis bersifat generik. Tidak khusus mengganti Islam.

Oleh karena itu, menurutnya, jika mau diaplikasikan secara konsekuen, mestinya setiap orang yang pindah agama (dari agama apapun, termasuk non muslim yang masuk Islam) dihukum bunuh.

Klaim Mun’im Sirry tersebut amat tidak berdasar. Tidak dalil naqli yang mendukungnya. Sebab, jelas yang dimaksud agama dalam hadis di atas adalah agama Islam.

Jika tidak, maka akan bertentangan dengan firman Allah SWT:إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran [3]:19)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan:

وَقَوْلُهُ: ﴿إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ﴾ إِخْبَارٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى بِأَنَّهُ لَا دِينَ عِنْدَهُ يَقْبَلُهُ مِنْ أَحَدٍ سِوَى الْإِسْلَامِ، وَهُوَ اتِّبَاعُ الرُّسُلِ فِيمَا بَعَثَهُمُ اللَّهُ بِهِ فِي كُلِّ حِينٍ، حَتَّى خُتِمُوا بِمُحَمَّدٍ ﷺ، الَّذِي سَدَّ جَمِيعَ الطُّرُقِ إِلَيْهِ إِلَّا مِنْ جِهَةِ مُحَمَّدٍ ﷺ، فَمَنْ لَقِيَ اللَّهَ بَعْدَ بِعْثَتِهِ مُحَمَّدًا ﷺ بدِين عَلَى غَيْرِ شَرِيعَتِهِ، فَلَيْسَ بِمُتَقَبَّلٍ. كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ [وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ] [آلِ عِمْرَانَ:٨٥] وَقَالَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ مُخْبِرًا بِانْحِصَارِ الدِّينِ الْمُتَقَبَّلِ عِنْدَهُ فِي الْإِسْلَامِ: ﴿إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

﴾“Firman Allah ta’âla: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” merupakan informasi dari Allah ta’âla bahwa tidak ada agama di sisiNya yang diterima selain Islam, yaitu mengikuti para utusan dalam setiap waktu hingga sampai pada Nabi Muhammad SAW, yang menutupi semua jalan kecuali dari jalan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, barang siapa —setelah Nabi Muhammad diutus— beragama dengan mengikuti selain syariatnya maka tidak diterima. 

Hal itu sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa agama yang diterima di sisiNya hanya agama Islam.”Imam Malik berkata, “Menurut saya, hadis tersebut tidak dapat diartikan umum mencakup orang pindah agama dari Yahudi ke Nasrani, dari Nasrani ke Yahudi, atau pada agama lain.

Yang dimaksud adalah orang yang keluar dari agama Islam ke agama selain Islam.”Imam Asy-Syaukani menyebutkan: “Yang dimaksud dengan mengganti agama adalah agama Islam, sebab agama yang hakiki adalah agama Islam sesuai dengan firman Allah dalam QS. 3: 19 dan 85. Pun, didukung dengan hadis riwayat al-Thabrani dari Ibnu Abbas: “Barang siapa yang mengganti agama Islam maka penggallah lehernya”.”

Dalam tulisannya, Mun’im Sirry juga menyebutkan hadis yang men-takhshish (membatasi) hadis di atas, tetapi dia membantahnya dengan berdalih HAM. Menurutnya, meskipun hadis di atas eksklusif agama Islam, tetapi penerapannya tetap bermasalah karena menyalahi HAM.

Sebab, beragama atau tidak adalah urusan pribadi, dan tidak boleh dipaksakan dari luar.Dalih tersebut tidak perlu ditanggapi panjang lebar karena jelas tidak benar dan menyalahi pendapat para fuqaha. HAM juga bukan termasuk dari salah satu sumber hukum Islam (insyaallah saya akan menulis tentang HAM sebagai sumber hukum Islam).

Mengenai dalih beragama atau tidak adalah urusan pribadi tidak dapat dijadikan dalil untuk menganulir hukuman bagi orang murtad. Dalih tersebut sama sekali tidak muqtadhal hal. Masalah kemurtadan tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai urusan pribadi belaka, karena ia menyangkut orang banyak. Sebab, orang murtad sebelumnya adalah orang yang meyakini kebenaran agama Islam. Ketika dia meninggalkan Islam maka akan menimbulkan keraguan pada umat Islam yang lain.

Dan, justru alasan tersebut oleh ulama dijadikan dalil tambahan memperkuat hukuman mati bagi orang murtad, yaitu hukum aqli. Sehingga, hukuman mati bagi orang murtad tidak hanya kuat dari aspek dalil naqli tetapi juga kuat dari aspek dalil aqli.Kebebasan beragama juga tidak dapat dijadikan dalih oleh karena alasan yang sama dengan alasan di atas.

Selain itu, ayat yang menjelaskan tidak ada paksaan dalam beragama –yang sering dikutip orang liberal– eksklusif bagi orang kafir asli bukan orang murtad dan tidak ada kaitannya dengan masalah riddah.Mun’im Sirry juga mengkritik ulama yang menjadikan praktik pada masa Islam awal sebagai hujah hukuman mati bagi orang murtad. Secara singkat, dia berkesimpulan bahwa perang riddah pada masa Abu Bakar tidak murni karena alasan riddah melainkan karena melawan negara Madinah. Sama halnya dengan Nabi yang mengeksekusi Abdullah bin Khatal dan Miqyas bin Sahabah. Menurutnya, keduanya dieksukesi bukan melulu karena murtad melainkan karena keduanya membunuh muslim lain.

Statemen Mun’im Sirry di atas jelas tidak benar. Malah jadi bumerang bagi statemennya sendiri. Sejarah tersebut jelas menyebutkan bahwa orang murtad dibunuh. Lalu, bagaimana kita menyikapi alasan lainnya? Ulama menanggapinya begini: orang murtad yang memerangi tidak perlu diberi waktu bertobat, ia harus langsung dieksekusi –seperti yang dilakukan Nabi dan Sayidina Abu Bakar di atas.

Berbeda dengan orang murtad yang tidak memerangi maka ia mesti diberi waktu untuk berpikir dan bertobat.Selain itu, peristiwa pada masa Abu Bakar tersebut oleh ulama dianggap sebagai ijmak yang bersifat mengikat oleh karena tidak ada seorang shahabat pun yang mengingkari Sayidina Abu Bakar membunuh dan memerangi orang murtad.

Dengan demikian, jelaslah bahwa ada banyak dalil hukuman mati bagi orang murtad. Dalil tekstual berupa hadis ada, dalil ijmak ada, dan bahkan dalil aqli. Pernyataan bahwa tidak ada dalil hukuman bagi orang murtad adalah omong kosong belaka.

Oleh karena itu, ikut ulama dulu (imam mazhab yang empat), lebih baik dan selamat daripada ikut orang-orang sekarang yang belum tentu ulama. Di samping itu, aspek keilmuan dan spritualitasnya tidak sebanding dengan ulama dahulu sehingga tidak layak untuk menjadi penantang. Who are you?

*NB: Tulisan ini pernah terbit di hmass.co 27 Juli 2019

Oleh. Moh Nadi (Penulis adalah Wakil Ketua PC HMASS Yogyakarta. Mahasiswa Jurusan Hukum Islam, Universitas Islam Indonesia) .

Tinggalkan Balasan