Mahasiswa, Santri dan Khutbah Jumat Yang Masih Saja Berbahasa Arab

Image: NU online

Membahas Khutbah Jum’at, ada banyak pertanyaan yang bergelayut terkait istilah tersebut. Mengapa harus pakai bahasa arab ? Apa kegunaan khutbah? Siapa yang berkhutbah, kiai-kah, santri, mahasiswa atau siapa?. Kita tak perlu menjawab pertanyaan itu secara detail dan runtut, namun pelan dan pasti penulis akan mengorek pertanyaan di atas dengan santai dan mengalir.


Tak perlu kita sibuk dan kasak-kusuk mencari arti dari istilah Khutbah Jumat manurut imam ini dan itu, toh ujung-ujangnya kita akan gagal mengkontektualisasikannya dengan realitas saat ini. Buktinya, Khutbah Jumat sampai detik ini di sebagian besar daerah Bangkalan masih saja memakai bahasa arab.


Ada masalah ? Ya, gak ada masalah, wong masyarakat adem-adem saja. Tapi kalau kita coba bidik dari sudut pandang yang berbeda, dakwah dan pendidikan misalnya, akan muncul sederet kejanggalan yang becokol dalam pikiran, seakan Khutbah Jumat dalam konteksnya saat ini tidak ada gunanya (tidak berbicara sebagai rukun shalat Jumat). Karena pada kenyataannya, khutbah yang memakai bahasa arab tersebut tidak dapat dipahami apalagi direnungkan oleh jamaah Jumat seperti perintah inshat dan istima’ oleh bilal sebelum khatib naik mimbar.


Khutbah sendiri berasal dari kata khataba-yakhtubu-khitaban/khutbatan, yang artinya dialog antara dua orang atau lebih. Namun khutbah Jumat termasuk ceramah pasif yang merupakan dialog satu arah dari pihak khatib saja, tapi setidaknya yang namanya dialog, ya materi yang disampaikan dapat dimengerti oleh audien.


Mengapa ? Ya, karena si khatib tidak menggunakan media komunikasi yang dapat ditangkap oleh jamaah, seperti bahasa Madura atau bahasa Indonesia. Dahulu Rasulullah saw. pernah berkhutbah di Persia memakai bahasa arab. Dan ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa khutbah jumat harus pakai bahasa arab dikarenakan pada waktu itu Rasulullah sendiri dalam keadaan tidak bisa berbahasa Persia.


Mengutip teori ushul fikih, taghayyurul ahkam bi-taghayyuril azminah wal amkinah (Zaidan, 2010), bahwa perubahan hukum tergantung tempos dan locus-nya. Teori ini tidak lantas seharusnya hanya dipahami dalam bidang hukum muamalah saja, namun perlu dijadikan alat pandang dalam mengkontektualisasikan khutbah sebagai media penyampai nasehat kepada umat dalam era saat ini.


Lantas, apakah bisa kita merubah hal ini?, Ya, bisa saja kita merubah fanatisme ini asalkan elit-elit lokal mau menyadari dan mengubahnya.


Kiai dan Tokoh Masyarakat


Kiai dan tokoh masyarakat sebagai orang kuat lokal (Rozaki, 2016), mempunyai andil besar dalam mengkontektualisasikan Khutbah Jumat. Sejauh ini kita lihat, yang menjadi khatib masih saja kiai desa atau ustadz sebagai panutan masyarakat, maka secara otomatis apapun yang disampaikan olehnya sedikit – bayak akan diiyakan oleh warga. Sedangkan pembesar desa, seprti pejabat atau aparat desa diam saja, sebenarnya bila keduanya ingin mengadakan perubahan, tentu bisa karena keduanya merupakan orangtua warga (yang dituakan).


Mahasiswa dan Santri


Mahasiswa sebagai entitas yang sadar pendidikan, juga sebagai agent of change, merupakan subordinasi dari elit lokal di atas, mempunyai pengaruh besar untuk bernegosiasi dengan para kiai untuk mengajak terhadap perubahan yang kontekstual tersebut. Namun, rupanya Khutbah Jumat luput dari bidikan mahasiswa. Mahasiswa saat ini kebanyakan hanya sibuk mengurusi politik, kusri jabatan dan link.


Sedangkan santri sebagai tukangkulak ilmu agama diam saja mengikuti apa dan bagaimana kata kiai desa. Bila mereka ditanyakan tentang masalah ini, “Sabar, perubahan itu harus pelan-pelan menghadapi orang desa,” Jawabnya. Sekilas pernyataan ini tak ada salahnya, bahkan sampai kapanpun tak akan ada yang menyalahkan. Tapi pernyataan itu sudah berapa puluh tahun diucapkan berulang-ulang ?. Dan sampai kini tak ada perubahan. Santri saat ini hanya sibuk mengurusi acara organisasi, seperti pengajian dan lainnya.


Padahal, andai saja khutbah ini digunakan secara maksimal, tentu banyak faedahnya. Seperti sebagai sarana dakwah, edukasi dan transformasi ilmu kepada masyarakat, bahkan bisa menjadi media informasi terhadap keadaan masa kini kemudian diulas dan dikritisi dengan teori-teori keagamaan. Sehingga kesadaran akan moral, pendidikan, pemeliharaan lingkungan, hukum, dan bahkan sebagai sarana mencerdaskan masyarakat dapat terbangun dan terwujud dengan mudah tanpa harus melalui mimbar-mibar pengajian yang mengahbiskan biaya berjuta-juta.

Oleh Tim Redaksi Pers KMBY

Tinggalkan Balasan