Nadi Puisi

Nadi Puisi

Ada sesendu sumbang dialtar penghabisan
Tergolek wajahmu diperaduan
Padahal cinta sejak lama disemayamkan
Pada dalam kalbu kesepian
Seperti gunduk tanah pemakaman
:Nadi puisi tak lagi bernada kemerduan
Seperti waktu mati kesurian
Menjauh hingga sejauh kejauhan
Datang kembali melamar gentayangan

Ubun-ubun senja kemerahan
Tertinggal didahan kekeringan
Kutanam sepasang bayang kesepian
Hingga akhirnya tiada Tuhan
Mengaku abadi nama setan kehantuan

Ada gelak tawa tanpa suara kesumbangan
Dideret pohon takdir ketakutan
Sebunga rimbun kerinduan
Berbuah puisi kebisuan
Tanpa tahu berapa masa tergadaikan
Dipenghujung senja ketuaan
Pelipis tangis sesunggukan
Kisah ayah ketangguhan
Dan ibu kesabaran, kesungguhan berdahan-dahan
:Terlahir aku kekinian
Seramai sepi mati nadi kepuisian
Aku tangguh diujung airmata kehujanan
Hingga tampak surga berhamburan
.
/MaduDarah-Bangkalan, 2015

Lakon Luka

Aroma getar hulu hilir berdzikir, ini perihal fikir yang didalamnya dirimu memanggil, kau eja masa terlipat segitiga, didada malam tengadah doa mesra sekarat lalu tiada

Ada takdir yang hendak kuusir
Bukan lagi perihal hidup yang redup tanpa aba-aba
Ini lukisan kisah kita, ada dan tiada mengada-ngada
Luka yang kau titipkan sekarat beranak malaikat
Surat yang kini menjelma abu dikakimu, suara hati yang sempat kau bunuh dalam mimpi, lakon luka mesra yang takdir bercerita, ini sekisah lupa yang teringat tanpa tanda.

Musim semi bersemi lalu mati terinjak hati
Celoteh bisu berteriak penuh haru
Kau, terimakasih luka yang tampan itu
Selalu saja luka yang paling setia.

/Bangkalan, 2015


Oleh: Putry Kata, alumni TMI DARUL ITTIHAD, CAMPOR-GEGER-BANGKALAN.

Tinggalkan Balasan