Poligami Yang Terzalimi

Oleh. Moh. Nadi- Anggota KMBY/Dabung Geger Bangkalan

Perbincangan hal ihwal poligami kembali hangat selepas Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), melarang kader-kadernya berpoligami karena menganggap poligami sebagai sumber ketidakadilan. Pada awalnya, saya tidak tertarik mengomentari pernyataan Grace, sebab bagi saya sudah jelas pernyataan tersebut mengada-ngada dan karena dia tidak tahu poligami yang sebenarnya. Oleh karena itu, saya lebih memilih membaca buku Gus Candra Malik, Mengislamikan Islam, yang sangat menginspirasi. Akan tetapi, isu tersebut terus berkelinding tak menemukan arah, terelebih ada banyak yang berlebihan dalam meresponnya baik yang pro maupun yang kontra, sehingga saya menajadi tertarik menyampaikan opini juga.

Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini syariat poligami terzalimi baik oleh orang yang pro dan yang kontra dengannya. Orang yang pro sering kali kebablasan dan menganggap poligami sebagai sunah Nabi SAW yang seakan amat sangat dianjurkan. Dengan alasan tersebut, banyak yang melakukan poligami tanpa seizin istri pertama dan tidak mengikuti undang-undang yang ada. Paradoks sekali. Akunya mengikuti sunah Nabi tetapi enggan patuh kepada ulil amri (pemerintah). Patuh pada ulil amri wajib berdasarkan nas Alquran. Berpoligami tanpa sepengetahuan istri pertama dapat menyakiti hatinya. Menyakiti orang lain dalam Islam tidak boleh, haram. Orang yang poligami di bawah tangan dan tanpa ijin istri pertama adalah dosa karena telah bermakisat. Yang kontra pun demikian, sering kali berlebihan. Menganggap poligami sebagai sebuah ketidakadilan bagi perempuan. Apa mereka tidak mikir bahwa yang melegalkan adalah Tuhan yang Maha Adil? Sama-sama paradoks. Mereka meyakini poligami sebagai ketidakadilan, padahal di sisi lain mereka mengaku percaya kepada Tuhan yang Maha Adil. Legalitas poligami dalam Alquran amat jelas, tidak seorang pun dapat menginkarinya. Pun, didukung dengan beberapa hadis Nabi SAW, seperti saat beliau menyuruh salah satu shahabat yang memiliki istri sepuluh agar mengambil empat saja dan menceraikan sisanya.

Poligami dalam Islam hukumnya tidak sunah melainkan mubah. Orang awam banyak salah paham ketika mendengar istilah “poligami sunah Nabi”. Sunah di situ tidak berarti sebuah anjuran, yang ketika mengerjakan mendapat pahala dan ketika meninggalkan tidak dapat apa-apa. Bukan. Yang dimaksud sunah di situ adalah sunah dalam arti etimologinya, yaitu jejak langkah; bahwa Nabi SAW juga pernah melakukan poligami. Tidak ada ulama yang mengatakan sunah. Mayoritas mengatakan mubah, ada sebagian kecil yang mengatakan wajib tersebab dalam ayat poligami ada kata perintah. Makna asal perintah adalah wajib sehingga poligami juga wajib. Akan tetapi, pendapat ini dibantah mayoritas ulama yang mengatakan mubah, sebab banyak dalil lain yang mengindikasikan bahwa arti perintah dalam ayat dimaksud dalam mubah bukan wajib. Dalam kaidah ushul fiqh, kata perintah (amr) bermakna wajib kecuali ada qarînah (indikasi) yang mengarahkan pada makna selain wajib (mubah atau sunah).

Jadi, hukum poligami seperti hukum makan dan minum, mubah. Suatu yang mubah diamalkan sesuai dengan tuntutan maslahat. Agar tidak mati kita diperbolehkan makan. Kita juga boleh tidak makan asal tidak membayakan diri sendiri. Suatu yang mubah itu amat fleksibel implementasinya. Poligami juga seperti itu. Jika memang dibutuhkan, silahkan berpoligami asal sudah memenuhi syarat-syarat yang ada. Jika tidak butuh, buat apa?

Menurut penulis, dalam berpoligami tidak cukup hanya memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan, tetapi mesti juga didasarkan kepada kemaslahatan. Tidak hanya harus adil melainkan juga harus mengandung masalahat. Oleh karena itu, saya amat cocok dan setuju dengan Undang-Undang Perkawinan 1974 di Indonesia yang mengatur teknis poligami. Undang-undang tersebut tidak hanya mengatur bagaimana agar suami bisa berlaku adil tetapi juga menekankan agar poligami dilakukan ketika memang dibutuhkan, seperti karena istri pertama tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang istri.

Penulis sendiri yakin, jika poligami dilakukan sesuai dengan perintah agama dan apa yang diteladankan Nabi SAW. serta sesuai dengan undang-undang yang berlaku, tidak akan pernah ditemukan ketidakadilan di dalamnya. Poligami akan menjadi indah, tidak menakutkan lagi. Sebab, setiap orang memiliki kewajiban serta hak-hak yang terlindungi. Jika kewajiban dipenuhi dan hak-hak diberikan, apa yang mau dipermasalahkan?

Ada yang bilang bahwa poligami adalah salah satu biang utama perceraian. Penulis tidak setuju kalau yang disalahkan adalah syariat poligaminya. Sebab, menurut observasi penulis pribadi, poligami menjadi masalah ketika dilakukan dengan tidak benar, tidak sesuai yang diajarkan agama dan teladan Nabi SAW. Salah satu contoh, ada orang yang berpoligami dan istri-istrinya tinggal satu atap. Ini dia praktik poligami yang salah atau tidak tepat. Apakah Nabi SAW mengumpulkan istri-istri beliau dalam satu atap? Tidak. Apa sebab? Pertama, sudah dinas dalam Alquran bahwa soal perasaan kita tidak pernah bisa adil, Nabi sekalipun. Kedua, perempuan adalah pecemburu handal. Pasti akan timbul masalah ketika dikumpulkan dalam satu atap, cepat atau lambat. Banyak tuh contohnya.

Oleh karena itu, tidak heran jika banyak orang yang protes soal poligami. Maklum. Sebab, para pelaku poligami memang banyak yang tidak memberikan contoh yang baik. Banyak yang berpoligami karena hanya ingin memenuhi hawa nafsu bukan karena tuntutan kemaslahatan. Niat salah pasti membawa masalah. Niat baik pasti membawa berkah.

Dengan demikian, tidak benar bahwa poligami sumber ketidakadilan. Manusia sendiri lah yang sering menzalimi syariat poligami. Allah melegalkan poligami sebagai sebuah solusi bukan sekedar untuk memenuhi nafsu berahi. Sudah seyogiyanya solusi dimabil saat benar-benar dibutuhkan dan sesuai dengan kebutuhan. Tidak berlebihan. Apalagi dipertontonkan.

Pernyataan Grace tidak bijak, mestinya yang perlu kita perjuangkan bersama adalah bagaimana agar poligami dilakukan sesuai dengan syariat dan undang-undang yang berlaku. Melarang poligami adalah hal sia-sia, karena Allah melegalkannya.

Tinggalkan Balasan