Peringati Hari Sumpah Pemuda dengan Kajian Budaya Daerah

YogyakartaKmby.org, Keluarga Mahasiswa Bangkalan Yogyakarta (KMBY), memperingati hari Sumpah Pemuda dengan kajian kebudayaan daerah, di Cafe Gibol, Sorowajan, Bantul, Yogyakarta, Minggu, 28/10/2018, pukul 13.00 WIB.

Tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah, “pemuda sebagai katalisator pemeliharaan budaya daerah”, dan, dinarasumberi langsung oleh wakil Ketua Umum KMBY, Amir Bandar Abdul Majid.
Menurutnya, tema ini penting diangkat mengingat, bahwa, pemuda saat ini mulai menjauh dari budaya daerahnya sendiri. Sehingga akibatnya mengalami sub culture yang cenderung berbeda dengan budaya induknya. Maka perlu adanya pelestarian budaya sebagai identitas daerah. Dan, yang seharusnya berperan untuk ini adalah pemuda sebagai penerus.
“Di bangkalan sendiri, banyak budaya-budaya yang perlu dilestarikan, seperti kerapan sapi, remoh, shalawat, pakaian batik khas Madura, dan perayaan keagamaan lainnya, namun sekarang ini banyak pemahaman yang cenderung tekstual, sehingga dengan klaim bid’ah, budaya itu satu persatu ditinggalkan.” Jelasnya.

Menurut Ahcmad Syarifuddin, selaku ketua KMBY, Klaim bid’ah dan sesat terhadap beberapa budaya di Madura tidak perlu terjadi, dan itu sangat disayangkan.
” Semestinya, Klaim bid’ah terhadap suatu kebudayaan tidak terjadi, namun harus ada yang bisa menjembatani antara pemahaman agama dan budaya sehingga melahirkan inovasi baru. Bukan justru agama sebagai alat untuk mengikis kebudayaan yang penuh nilai arif nan bijak.”

Yang lain juga sependapat dengan hal tersebut, misalnya seperti, Toher bin Muhaimin. Menurutnya, sudah seharusnya pemuda memiliki kesadaran akan kedaerahan, melek budaya daerah dan menjaganya. Hal ini adalah tugas kaum muda dan terpelajar serta memiliki pendangan yang luas tentang keilmuan, sehingga agama dan budaya tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi dijembatani dengan inovasi baru.
“Contoh kerapan sapi, kalau memang tidak setuju sapi-sapi itu dipukul dengan paku, maka kita ganti dengan cambuk yang tidak melukai sapi. Acara maulid juga, pesan di dalamnya harus dipahami, seperti mempererat silaturahim dan bershalawat, kan Bangkalan memang kota shalawat. Dan masih banyak yang lainnya, kayak sarung dan songkok. Warga madura tak perlu malu dengan budayanya sendiri, gitu lho.” Tanggapnya terhadap pemateri panjang lebar.

Diskusi berjalan hangat dan penuh dialektika dengan peserta sebanyak 15 orang. Acara yang seharusnya berdurasi 2 Jam, tapi mengahabiskan waktu hingga menjelang adzan Maghrib tiba. Kajianpun disudahi, mengingat sebagian anggota KMBY menjadai takmir masjid dan juga mondok di salah satu pesantren di Yogyakarta.

Report. Salim S Shabir.

Tinggalkan Balasan