Pemuda dibalik Hujan

Kisah Pemuda dibalik Hujan
Dengarkanlah, dinda…
Coba kau dengarkan rintik hujan kala turun itu
Sebagaimana pujangga menyebutnya ‘nyanyian para perindu’
Yang tiap tetes air jatuhnya laksana pertemuan Adam dan Hawa
Yang terpisah oleh jauh jarak dan lamanya waktu,
Seorang pemuda terus saja memanggil namamu
Tak ada malaikat menjaring laba-laba
Hanya pemuda kesepian berselimut sunyi:
Menyulam benang-benang kasih yang telah kusut
Bersama kenangan yang tersimpan di ingatan
Pemuda itu menenuni berbagai kata yang berserakan
Terus merambati waktu dari ruang masa lalu
Tuk definisikan makna bahagia paling sederhanamu
tapi, apabila dia telah terperanjat dari sadarnya,
Tersesatlah dia dari segala kerumitan kata
Kerumitan kata yang amat sukar dia bahasakan
Ayolah, dinda, mendekat…
Tidakkah kau berbelas hati padanya?
Yang bila kau tengok pemuda itu dari balik pintu:
Ada bola mata terpancar mengeluarkan sayap malaikat
Mencoba terbang mencuri seponggok hati berbentuk cinta
tapi, selalu kalah membelah paradoksal
Pun, apabila pemuda itu telah menyeruput kopi hitamnya
Bersama dengan kepulan asapnya yang membuihkan rasa pedih,
serta panasnya yang membawakan rasa sakit,
dan pahitnya aroma penolakan yang amat menyengat,
Bayangan dirimu semakin rakus memperkosa pikirannya
Mendekatlah, dinda, hampiri pemuda itu…
Jika kau benar-benar tak bisa memberikan harapan padanya
Paling tidak, katakanlah bahwa kau baik-baik saja
Karena baginya, memiliki kabar darimu jauh lebih penting
Jauh lebih penting dari pada memiliki dirimu

Hujan Yang Merindu
Tengoklah….
Coba kau tengok dulu hujan yang turun itu.
Paling tidak, kau bisa intip dari balik jendela kamarmu
jika kau benar-benar tak menyukainya.
Bagaimana? Romantis bukan? Walaupun sedikit basah.
Sebagian orang mengutuk hujan karena tak bisa berpergian.
Sebagian lainnya merindu karena kebutuhan.
Aishh.. Kenapa manusia selalu menimbang untung-rugi segala sesuatu ini?
Bukankah sudah ada sabdanya kalau hujan adalah rahmat Tuhan?
Maka, berdo’a-lah kala hujan telah menyapa bumi
Aku selalu merindukan turunnya hujan.
Apalagi hujan di pertengahan bulan Januari ini.
Rinainya yang membiaskan sapuan halus pada hati,
nuansa bau basahnya yang menentramkan jiwa-jiwa yang sepi,
pun, tetesan hujan yang tersorot oleh lampu
dan terseretnya warna berkilauan dari rumah-rumah tua,
seakan membuat ruang dan waktu bersekutu menjelmakan rindu
Ya, rindu pada seraut wajahmu yang bermuka sendu
Pada desa ini, di tempat aku berpijak,
Hujan dan desa serasa saling melengkapi
Desa ini bertambah istimewa kala hujan telah turun
Ya, desa istimewa itu adalah Dupok
Dupok beberapa hari ini sedang diderai hujan
Tidak hanya menjadi istimewa,
Ternyata hawa dinginnya juga menyapa rindu kala hujan telah turun
Bukankah keistimewaan ini tampak menyedihkan bila tak dinikmati?
Jadi, maukah kau menaiki sepeda motor tuaku ini, dinda?
Ayolah… jangan kau mubazirkan derai hujan yang turun ini
Telah lama pula kan, kau tak menyapa yang turun?
Ayolah, dinda…. sebelum hujan tidak turun lagi,
aku ingin berbasah-basah sekali saja denganmu, di Pantai.

Oleh: Tuna Asmara, Tretan KMBY, pecinta sastra. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *