Bintang Hujan

Bintang Hujan

Pada sore senja tadi
Peri-peri menghitung hari
Tiba-tiba kamis menghilang tanpa permisi
Sembari menangis berlesung pipi
Jum’at menjadi saksi kunci
Padahal keduanya saling mencintai.

Seketika airmata menjelma susu kopi
Berwarna senja menggoda hati
Berenang kasana-kemari
Dibibir mentari elok berseri

Kini hari berjalan tanpa henti
Meski tanpa kamis sepi sekali

Dan kamispun datang membawa tambatan hati
Membunuh jum’at mati sangat suri
Menjadi syahid dialtar berkabung diri.

Bintang menggigil sebab hujan deras menghantui
Hingga sore senja tua sekali
Tiada mantel tersedia menghangati
Padahal mata bulan mengibai
Alamat gigil tak tampak berhenti
Bintang pucat pasih seperti jum’at bunuh diri
Tapi dia belum mati
Sampai fajar menahlili
Hujanpun terus menyelimuti
Hingga bintang purnama tiga kali.

Sebungkam Rasa
Adalah rasa yang kueram.

Sesak rindang mencengkram
Sehujam gerimis kueja sadis.

Cinta ini membisu manis
Menutup mata, terkatup rasa
Pada hela nafas kubaca mantra doa
Hingga cinta rasa rasuki hati yang kupinta
Dirimu satu, tempat rinduku bertumpu
Meski tiada sunyi beritahu
Sejauh pandang kusentuh wajahmu
Bersembunyi dari sepi tak dimengerti
Senyumku jatuh banyak kali.

Lebih sepi
Meminang rasa dengan sebungkam harap
Kabut pemisah kita enyah tanpa apa
Disuatu penjuru, tiada sesiapa tahu
Kupeluk namamu sayu.

Seiring doa tertujumu
Smuga bahagia setia pada hati yang kucinta
Hingga surga. Tempat kita bersua

/Bangkalan, 10 February 2016
Oleh: @putrykata, asal Campor, Geger, Bangkalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *