BAHAYA MEROKOK DAN PEMBENTUKAN KARAKTER MANUSIA

Rokok merupakan salah satu permasalahan nasional bahkan sampai ke internasional, rokok juga merupakan salah satu penyumbang terbesar penyebab kematian yang sulit dicegah dalam masyarakat.

Menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia merupakan negara yang mendapatkan peringkat ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Peningkatan yang terjadi pada konsumsi rokok berdampak makin tingginya beban penyakit akibat rokok dan bertambahnya angka kematian akibat rokok. Pada tahun 2030 diperkirakan angka kematian perokok di dunia akan mencapai 10 juta jiwa dan 70% diantaranya berasal dari negara-negara berkembang yang salah satunya adalah Indonesia.

Di Indonesia prevalensi perokok perempuan meningkat yang tadinya 4,2% pada tahun 1995 menjadi 6,7% pada tahun 2013. Dengan demikian, pada 20 tahun yang lalu dari setiap 100 orang perempuan terdapat 4 orang diantaranya adalah perokok, pada saat ini setiap 100 orang perempuan 7 orang diantaranya adalah perokok. Padahal dampak rokok selain pada tubuh, bagi perempuan perokok akan mempengaruhi calon generasi muda. Ibu hamil yang merokok rata-rata akan melahirkan bayi yang memiliki berat badan lebih rendah dan lebih pendek dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak perokok.

Lebih memprihatinkan lagi adalah kebisaan buruk merokok meningkat pada generasi muda dengan usia pemula 10-14 tahun yang meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun. Menurut data Kemenkes menunjukkan bahwa pravelensi remaja usia 16-19 tahun meningkat menjadi 3 kali dari 7,1% pada tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014.

Padahal pemerintah melalui dinas kesehatan tidak henti-hentinya memberikan peringatan dengan jelas, salah satunya dengan memberikan gambar-gambar mengerikan akibat efek samping merokok yang tertempel dalam kemasan rokok tentang bahayanya merokok. Gambar tersebut betujuan untuk memberikan peringatan yang lebih keras, namun masyarakat tetap masih menghisap rokok.

Dari ribuan jenis bahan kimia yang terdapat dalam rokok, 40 jenis diantaranya bersifat karsinogenik dan telah diidentifikasi antara lain, benzoa, pyrene, cadmium, nikel zink, karbon monoksida, cairan pembersih lantai, nitrogen oksida, karbon dioksida, karbon monoksida, partilulat (kebanyakan tar), nikotin, nitrogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, formaldehida, fenol dan puluhan lainnya senyawa beracun yang terkenal dalam konsentrasi tinggi.
Senyawa paling banyak yang terkandung dalam rokok adalah nikotin yang nanti akan terbawa dalam aliran darah yang dapat mempengaruhi berbagai bagian tubuh. Nikotin dapat mempercepat denyut jantung (mencapai 20 kali cepat dalam satu menit dari keadaan normal). Pun punyai pengaruh utama terhadap otak dan sistem saraf, selain itu memberpengaruh menenangkan dan bersifat aditif atau menyebabkan kecanduan.

Merokok dapat menggangu kerja paru-paru yang normal, orang yang banyak merokok (perokok aktif) dan orang yang yang banyak menghisap asap rokok (perokok pasif), dapat berakibat paru-parunya lebih banyak mengandung karbon monoksida dibandingkan oksigen sehingga kadar oksigen dalam darah kurang lebih 15% daripada kadar oksigen normal. Selain itu, perokok pasif yang tinggal serumah dengan perokok aktif, dua kali akan lebih mudah terkena kanker paru-paru dibandingkan mereka yang tinggal dilingkungan bebas asap rokok.

Akibat buruk kebiasaan merokok bagi kesehatan telah banyak dibahas. Kebiasaan merokok telah terbukti berhubungan dengan kurang lebih 25 jenis penyakit dari berbagai organ tubuh manusia. Penyakit yang berhubungan dengan merokok baik penyakit yang diakibatkan langsung oleh merokok atau diperburuk keadaannya dengan merokok. Penyakit yang menyebabkan kematian para perokok antara lain penyakit jantung koroner, trombosis koroner, kanker, dan bronkitis atau radang.Beberapa efek lain yang dapat timbul dari kebiasaan merokok, antara lain wajah keriput, lingkungan akan menjadi bau, menjadi contoh yang buruk bagi anak, menjadi gerbang penggunaan narkoba, gigi bercak dan nafas bau.

Kebiasaan menghisap rokok dapat memberi pengaruh buruk bagi kesehatan dan juga pembentukan karakter manusia karena pembentukan karakter manusia dipengaruhi oleh faktor organis dan faktor non-organis, dimana faktor organis dibentuk oleh faktor bawaan genetik dan intregritas kerja sistem organ tubuh misalnya, otak.

Sedangkan faktor organis berhubungan dengan faktor lingkungan dimana seseorang itu bermukim. Karakter itu sendiri adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu
Jika dilihat secara sepintas, kebiasaan menghisap rokok dalam waktu tertentu, sepertinya tidak memiliki efek yang signifikan terhadap pembentukan karakter.

Tetapi jika dilihat dari faktor organis yang mempengaruhi pembentukan karakter, maka tidak berlebihan jika kita menarik satu premis bahwa segala sesuatu yang mempengaruhi normal dan tidaknya fungsi suatu organ, dalam hal ini otak, pada akhirnya akan mempengaruhi performa organ tersebut. Contohnya, rokok mengandung senyawa nikotin yang bersifat toksik yang salah satu efek toksik mempengaruhi integritas struktur pembuluh darah. Sedangkan fungsi otak sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas suplai darah pada wilayah otak.

Dengan demikian, jika terjadi gangguan pada pembuluh darah dan atau pada sel-sel darah, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kualitas kerja sistem otak keseluruhan dan pada akhirknya akan mempengaruhi seseorang yang sedang berfikir dan berusaha menilai baik dan buruknya satu tindakan yang akan dilakukan dan sebaliknya.

Sedangkan faktor non-organis berhubungan dengan faktor lingkungan disekitar. Secara alami, sejak lahir sampai berusia tiga tahun atau mungkin hingga sekitar lima tahun. Kemampuan menalar seorang anak belum tumbuh sehingga pikiran mereka masih terbuka dan menerima apa saja informasi dan stimulus yang dimasukan ke dalamnya tanpa penyeleksian, mulai dari orang tua dan keluarga. Dari mereka itulah, pondasi awal terbentuknya karakter sudah terbangun. Pondasi tersebut adalah kepercayaan tertentu dan konsep diri.

Jika sejak kecil seorang anak sudah diajarkan cara merokok, melihat seseorang merokok dan ada yang mengatakan itu suatu hal keren, maka anak tersebut bisa mengambil sebuah kesimpulan itu adalah suatu hal yang keren. Selain itu, salah satu efek utama rokok bersifat adiktif yang menyebabkan ketergantungan dan menyebabkan manusia menjadi lebih egois dengan membiarkan merokok didepan umum dan merugikan kesehatan orang lain.

Oleh :
Yusniatul Hasnia
Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Email: Yusniyatul@gmail.com

DAFTAR PUSTAKA
HTTS 2016: Suarakan Kebenaran, Jangan Bunuh Dirimu Dengan Candu Rokok.http://www.depkes.go.id/article/print/16060300002/htts-2016-suarakan-kebenaran-jangan-bunuh-dirimu-dengan-candu-rokok.html (diakses pada tanggal 05 april 2018)
Lickona, Thomas. 2012. Character Matters. Jakarta: Bumi Aksara
Manshur Muslich. 2010. Pendidikan Karakter, Menjawab tantangan krisis multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara
Merokok, Tak Ada Untung Banyak Sengsaranya. http://www.depkes.go.id/article/view/17041300002/merokok-tak-ada-untung-banyak-sengsaranya.html (diakses pada tanggal 05 april 2018)
Nurrahmah. 2014. Pengaruh rokok terhadap kesehatan dan pembentukan karakter manusia. Jurnal volume 1 Nomor 1
Saminan. 2016. Efek perilaku rokok terhadap saluran pernafasan. Jurnal kedoteran syiah kuala volume 16 Nomor 3 Desember

Tinggalkan Balasan