Imam Abu Hanifah & Al Auza’i

Imam Abu Hanifah merupakan perintis mazhab hanafi, salah satu mazhab fikih yang terjaga dan diakui validatisnya hingga kini. Beliau merupakan ulama yang sangat alim di masanya. Tak heran jika banyak orang dari berbagai negeri menimba ilmu kepada beliau di kota Kufah.

Imam Abu Hanifah memiliki banyak karya di pelbagai bidang keilmuan. Salah satunya beliau mengarang kitab sirah (sejarah) peperangan Nabi saw. Nah, kitab tersebut mendapat tanggapan dari Imam al-Auza’i, seorang mujtahid mutlak, tersebab ada beberapa hal yang menurut beliau tidak tepat.

Imam Khathib al-baghdadi bercerita dalam kitab tarikhnya tentang kisah Imam Ibnu Mubarak. Ia berkata, “Saya mengunjungi al-Auza’i di Syam. Saya mendapatinya di Bairut, lantas ia berkata padaku, ‘Hai orang khurasan, siapa orang ahli bidah di Kufah ini, yang biasa dipanggil dengan Abu Hanifah?’
Kemudia aku, Imam Ibnu Mubarak, pulang ke rumah dan membaca kitab-kitab Imam Abu Hanifah. Aku cari pembahasan yang paling menarik dan aku teliti selama tiga hari. Pada hari ketiga aku mendatangi al-Auza’i dengan membawa kitab tersebut. Aku dapati beliau lagi di masjid, sedang azan dan menjadi imamnya.

Beliau bertanya, ‘Ini kitab apa?’ Aku berikan kitab tersebut padanya dan aku perlihatkan persoalan yang telah aku tandai. Di situ bertuliskan: all-Nu’man berkata. Beliau membaca kitab tersebut sambil berdiri selepas azan hingga dapat separuh. Kemudian beliau meletakkan kitab tersebut, ikamah lalu salat.

Selepas salat, beliau bertanya padaku, ‘Hai orang Khurasan, siapa al-Nu’man bin Tsabit ini?’ Aku jawab, ‘Seorang guru yang aku temui di Irak.’ Lantas beliau berucap, ‘Ini merupakan guru yang patut dijadikan panutan. Kunjungilah dan belajarlah yang banyak darinya!’ Aku katakan, ‘Dia adalah Abu Hanifah yang sempat engkau larang (mengunjunginya)!’.

Imam Hafiz al-Din al-Kardawi menuturkan riwayat lain dalam kitab manaqibnya yang dinukil langsung dari Imam Ibnu Mubarak, beliau berkata, “Kemudian kita (Ibnu Mubarak dan al-Auza’i) bertemu di Mekah. Aku melihat al-Auza’i mendiskusikan masalah yang kemaren kepada Imam Abu Hanifah. Abu Hanifah menjelaskan dengan gamblang.

Ketika kita hendak berpisah, aku bertanya kepada al-Auza’i, ‘Bagaimana pendapat Anda tentangnya?’. Ia menjawab, ‘Aku iri kepadanya saking banyaknya ilmu yang dikuasai dan kecerdasan pemikirannya. Dan aku memohon ampun kepada Allah karena aku telah salah menilai. Sering-seringlah bersamanya karena ia sama sekali tidak seperti yang aku dengar selama ini’.”
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah menakjubkan di atas?

Pertama, semestinya kita selalu berpikir positif tentang orang lain. Terlebih lagi terhadap orang lain yang tidak begitu kita kenal dengan baik. Berpikir positif jauh lebih baik dan selamat daripada berpikir negatif.

Andai ada orang yang tidak kita kenal, melontarkan statemen kontroversial maka seyogyanya kita mengedapankan husnuzan kepadanya. Dengan berpikiran positif maka kita akan lebih mudah (semisal yang disampaikan memang tidak benar) untuk menasehati dan menjelaskan yang benar. Tentu akan berbeda ketika kita mendahulukan pikiran dan perasaan negatif, maka kita akan cenderung membully, melabeli negatif, dan lain sebagainya, yang mana hal itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Justru nambah masalah!.

Kedua, mengakui kehebatan orang lain meski ia tidak sependapat dengan kita. Pastinya, di dunia ini (selain nabi) tidak ada yang 100% bisa benar, terlebih menyangkut persoalan non prinsipil, di mana setiap orang memiliki peluang sama untuk salah dan benar. Maka, ambillah yang benar dan tinggalkan yang tidak benar.

Ketiga, sesengit apa pun kita berbeda pendapat dengan orang lain, jangan sampai kita kehilangan respek dan rasa hormat kepadanya. Artinya, jangan sampai perbedaan pendapat menjurus pada permusuhan.

Berbeda pendapat adalah hal biasa dan alamiah karena manusia memiliki tingkat kecerdasan dan ilmu pengetahuan berbeda-beda.

Setidaknya, jika alasan ilmu (seperti cerita di atas) tidak bisa menyatukan, maka banyak alasan lain. Seperti alasan menjaga ukhuwah islamiyah dan atau alasan kemanusiaan yang oleh Allah sama-sama dimuliakan apapun latar belakang agamanya.

Intinya, menjaga persatuan dan perdamaian dalam keadaan apa pun selama masih bisa ditolerir mesti menjadi prioritas utama apalagi hanya dalam perbedaan menyangkut politik yang hina dina!

Oleh: Moh. Nadi, Mahasiswa Hukum Islam UII Asal Kajjan Blega Bangkalan

Tinggalkan Balasan