Bersarung ke Kampus, Radikalkah?

Munculnya isu larangan memakai niqab (cadar) di salah satu perguruan tinggi negri di Indonesia mengundang desas-desus dan perhatian khalayak umum. Dasas-desus itu berhembus kencang kala media menyorot dari berbagai sudut pandang. Tak ayal lagi, penggiringan opini, baik pro dan kontra bertebaran di mana-mana. Ada yang menilainya dari klaim akidah dan ada juga sebatas atribut saja, bukan indikasi radikal.

Berbicara tentang atribut memang bukan menjadi tolak ukur keagamaan seseorang. Jika dikatakan berpakaian cadar adalah bentuk ciri-ciri orang radikalisme, ini juga anggapan yang kurang baik. Sebab yang radikal adalah pikiran dan tindakan bukan busana dan mode.

Namun, yang perlu dipertimbangkan adalah terkait aspek lingkungan sekitar, baik pendidikan, keluarga, komunitas, semuanya memiliki aturan tertentu. Seperti yang dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga menganjurkan Mahasiswanya berpakaian standar. Sebab berbeda di muka umum itu mudah terkenal dan mengundang kecurigaan sekaligus menyebabkan terhindar dari kebiasaan dan budaya yang ada. Jadinya seakan-akan asing dengan sendirinya.

Jika saya berpakaian rapi tapi yang saya kenakan adalah bersarung, itu tidak menyalahi aturan Agama dan Uperguruan denganpi yang menjadi pertimbangan adalah ketidak etisan dilingkungan perguruan karena memakai sarung. Karena kampus mempunyai kode etik legal formal tentang cara berpakaian. Sedangkan di luar kampus, boleh-boleh saja memakai sarung dengan tenun macam apapun.

Semua orang pastinya sudah arif, memakai sarung adalah simbol yang identik santri dan tidak bertentangan dengan aturan Agama dan Negara sekalipun, bahkan bersarung juga menutupi aurat. Tapi seiring berkembangnya teknologi dan pola pikir manusia tentang fashion, maka dengan sendirinya manusia mengatur tata cara berpakain, di mana dan kapan pakaian ini dan itu harus dikenakan.

Andaikan saja tidak ada tata aturan yang rapi dan standar berpakaian dalam sebuah kampus, tidak akan sedikit mahasiswa kuliah yang mamakai sarung. Andaikan sebagian mahasiswa berpakaian sarung ke kampus, apakah bisa di kategorikan radikal? Tentu tidak. Hanya kurang etis dalam mengenakan atribut bila menyalahi standar berpakaian yang telah ada. Itu saja!

Oleh. Mishbahul Wani

Asal Kajjan Blega Bangkalan

Mahasiswa Prodi Tafsir di UIN Sunan Kalijaga

Saat ini menjabat sebagai ketua HMJ Prodi Tafsir Quran

Tinggalkan Balasan