Seonggah Rindu

Pada lipatan senyum dimeja kopi
Seonggah rindu tertinggal menggigil
Mengeja wajah tanpa nama
Menghitung reruntuh harap tanpa kata

Disaku merah hatimu
Kutitip separuh airmata penuh cerita
Perihal janji-janji keramat
Juga pelukan semakin erat
Tiada lagi waktu terus melaju
Menggugurkan takdirku dan dirimu

Aroma rindu semakin saja membelenggu
Menjerat kursi-kursi tanpa penghuni,
“Dahulu kita duduk bersama,
Sedekat nadi dan nyawa”

Rintik mulai cemooh lamunanku
Membasahi tiap-tiap kenangan
Menggiring bulir kesedihan sesunggukan.
Syahdan!
Begini ternyata luka cinta,
Yang melahirkan rindu tanpa nada,
Sepi.

Yogyakarta, 12 Desember 2017.

Oleh: Putry Kata

Pecinta literasi Asal Geger Bangkalan.

Tinggalkan Balasan