Si Pemilik Senyum 2 Senti

Oleh: Sirojul Lutfi*

 

Kita dipertemukan dalam ketidaksengajaan, di tempat asing yang belum
pernah kita jamah sama sekali, di mana waktu pertemuaan itu tidak pernah kita rencanakan. Barang mungkin, karena tanpa didasari rencana-lah mengapa pertemuan kita bisa dibilang ketidaksengajaan. Ya, mungkin alasan itu yang paling pas untuk mendeskripsikan ketidaksengaajaan itu. Ketidaksengajaan pertemuan kita.

Kamu diam, aku juga. Begitulah sepintas lalu bila diulas dari pertemuan kita bermula dan juga berakhir. Sebenarnya aku tahu kondisi seperti itu, diam, adalah situasi canggung, aku pernah menontonnya di sinema FTV. Sebagai lelaki pula, seharusnya aku-lah yang harus memulai. Memulai inisiatif melenyapkan diam, tapi ternyata tidak. Aku masih saja diam, begitupun juga denganmu. Dan pertemuaan kita hanya dibahasakan oleh diam. Tanpa kata. Hanya diam. Itu saja, diam.

Awalnya aku biasa-biasa saja, tidak merasakan apapun, tidak ada yang istimewa. Dan tidak ada yang spesial juga tentunya. Lambat laun semua agak berubah, seperti ada yang lain. Tentu kelainan ini bukan akibat dari negara api yang menyerang. Lain, ini memang lain. Seolah aku pernah merasakannya dulu, tapi lagi-lagi kelainan ini lebih lain. Lain apanya memang masih rancu, tapi tetap ada yang tidak wajar.

Usut punya usut, setelah dari perenungan, ternyata sesuatu yang membuat aku merasa lain pada ketidakwajaran itu, penyebab utamanya adalah kamu. Ya, kamu: Si pemilik senyum dua senti.

“Mungkin aku terkesima?” Tanyaku dalam hati. Ya, mungkin. Terutama dengan senyum dua senti yang kamu punya. Senyum itu mengingatkan aku  pada titik kecil dari seberkas sinar yang hanya dapat aku temukan di sebuah petak ruang terpencil dan tersembunyi di dalam diriku. Sebuah senyum yang kesempurnaanya tidak dapat aku jelaskan dengan pasti, tapi selalu memberikan makna dari alegori di balik kehidupan. Alegori di mana aku tidak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan yang fana, hanya cinta.

“Sial.” Lirihku mengeluh dalam sepi. Hati yang belum sembuh total ini, yang dulu pernah tersakiti kembali diketuk, dan semua itu sudah barang tentu pelakunya adalah kamu. Pertahananku pun jebol. Dinding hatiku kembali terbuka, dan tentu juga itu karena ulahmu. “Sial.” Kembali aku melirih sambil mengeluh dalam sepi.

Sama seperti pertemuan kita, diam, kamu datang secara diam-diam pula. Dan kemudian masuk perlahan dan menyelinap ke dinding hati yang dulu sempat terjamah, tanpa permisi, tanpa salam, tanpa sopan-santun. Dan tidak beradab. Asal masuk saja, curang bukan? Juga dalam diam, aku mulai membayangkanmu sembari menenun kata demi kata yang pas untuk melukiskan seraut wajahmu. Tapi aku sangat tahu, setiap kata yang aku rangkai tidak akan pernah bisa mewakili dirimu secara utuh. Apalagi keindahan senyum dua senti yang kamu punya: Sebuah senyum tersamar namun tampak pasti dari tarikan kedua bibir ke samping sepanjang 2 senti.

Tunggu dulu, tunggu. Aku lupa pada sesuatu yang seharusnya aku tahu terlebih dahulu: Nama. Iya, nama. Siapa namamu? Apa awalan huruf yang melekat pada namamu? Dan berapa rangkaian huruf yang terlabel di namamu? Itu penting. Teramat penting bagiku. Tanpa nama, bagaimana aku bisa menyebutmu dalam doa? “Oh, tidak. Tidak. Aku tidak boleh melakukannya”, kesadaranku pun melarang. Aku takut. Takut kalau kamu tahu dan menyebutku sebagai lelaki tak tahu diri dan lancang. Lancang karena telah berani menyebut namamu dalam doa. Apalagi sampai mengadu ke orang tuamu. Tidak. Itu tidak boleh. Aku takut. Maaf.

Baiklah si pemilik senyum dua senti, aku harus membuat rencana. Dan barang tentu sembari memantapkan diri juga. Aku tahu, dari pengalaman, jika hati dibiarkan begini terus malah akan tambah terkoyak. Tentu aku mengetahui bukan lagi dari sekadar teori dalam buku-buku yang selalu aku baca. Aku pernah merasakannya. Pernah mengalaminya. Tapi itu dulu. Dulu sekali, jauh sebelum pertemuan dalam ketidaksengajaan kita bermulai. Tapi aku tidak ingin membahasnya. Bukan lantaran gila misteri. Bukan pula mengangap itu perihal tidak penting, hanya tidak ingin. Lagi pula, sedari dulu hati sudah bermufakat kalau dia sudah (pernah) menjadi rerangkaiku.

“Aku harus berbuat sesuatu.” Inisiatifku kembali mulai berfikir. Ya, sejenis konspirasi hati, meski akal terkadang tidak menghendaki. Setidaknya dari konspirasi hati aku bisa mengenal namamu, meskipun tidak akan aku sebutkan dalam doa. Tapi dari situ, mengenal namamu, bisa kujadikan sebagai konsumsi hati. Setidaknya 3 kali sehari seperti resep obat. Aku janji tidak mengkonsumsi namamu lebih dari 3 kali. Karena aku takut kalau nanti lebih dari 3 kali bisa over dosis.

Hari itu terbilang cerah serupa senyum dua senti yang kamu punya. Sangat menyeduhkan dan menghangatkan hati, dan sebuah konspirasi hati- pun telah aku mulai. Berbeda dengan pertemuan kita yang pertama, kali ini bukan di tempat asing lagi yang mempertemukan kita. Pertemuan kedua ini juga telah aku rencanakan. Jadi, pertemuan kedua ini bukan lagi seperti yang pertama, pertemuan yang tidak disengaja.

Datang ke desamu yang berbeda kecamatan dengan desaku, harus aku tempuh selama 30 sampai 45 menit jika memakai kendaraan sepeda motor. Memang pakai apalagi? Mobil? Sepeda motor itupun hasil minjam -Enggak punya sepeda motor. Bila kuingat-ingat, pada pertemuan kedua itu, kamu duduk bersama teman-temanmu dengan memakai pakaian serba putih. Sedang aku tepat berada dihadapanmu sekitar 10 meter. Melihatmu dari jarak

sedekat itu, aku mulai percaya dengan perkataan Dewi Lestari yang katanya terkadang malaikat itu juga tak bersayap, lewat lagu: Malaikat juga tahu. Eh, maaf, kalau terbilang menggombal. Maaf.

Maaf kalau kalimatku tadi tidak mengenakkan hati dan terbilang gombal. Tapi aku bisa menjelaskan mengapa aku merasa seperti itu. Boleh? Terimakasih.

Begini, aku sependapat dengan kawanku kalau, banyak sekali penyair, sastrawan dan penulis yang terinspirasi oleh wanita yang dicintainya. Bahkan, katanya, manusia biasa yang tidak pernah belajar sastra pun akan menjadi penulis sajak yang indah ketika dirinya benar-benar jatuh cinta. Jika tidak percaya, tengok kisah Zainuddin yang menempatkan Hayati sebagai permata inspirasinya. Atau Beatrice Portinari yang menjadi ilham bagi Divine Comedy- nya Dante. Demikian pula denganku ke kamu.

Jadi, ketika melihat kamu berpakaian serba putih itu aku merasa semua alegori kehidupanku tercipta. Euforiaku pun meningkat, sehingga aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang fana. Dan kesemuannya seolah menjadi satu dalam disposisi-Nya. Karena jujur saja, wanita, terutama kamu, iya kamu, kamu si pemilik senyum dua senti, bagiku, adalah pembuka horizon dalam menanggapi kompleksitas kehidupan menjadi tenun mozaik indah yang dihiasi dengan syukur. Meskipun bersandar di pundakmu adalah ketidakmungkinan, tapi bisa melihatmu seperti itu saja merupakan hadiah doa terbesar yang diberikan Tuhan. Dan aku tak tahu mengapa, alegori yang konon sulit untuk dituliskan oleh kebanyakan orang itu, seperti mengalir deras begitu saja tanpa bendungan ketika melihatmu berpakaian serba putih itu: Malaikat tak bersayap.

Setelah berselang beberapa menit, aku mulai mendekatimu dengan memangkas jarak. Jangan ditanya kenapa atau untuk apa. Apalagi kalau bukan berkenalan denganmu.

Sama seperti teman-temanmu, kamu nampak kaget ketika aku ulurkan tangan sembari memperkenalkan diri dan mempertanyakan namamu. Tapi kamu hanya diam, tidak segera menjawab. Kalau kamu tahu, ketika itu aku sudah menyiapkan mental secara penuh, Super Saiya 4, untuk berkenalan. Tapi kamu-nya? Masih saja diam tidak mengeluarkan suara. Sempat pula aku berpraduga buruk selama menunggu jawaban yang kuanggap terlalu lama itu, kalau alasan kamu tidak kunjung menjawab, adalah karena kamu tuna wicara. Tapi ternyata dugaanku keliru ketika teman di sebelahmu menegor dan mencubitmu. Kamu-pun menjeriat: Aaakhhh.

Jelas ketika kamu menjerit aku kaget bukan main. Bertambah lagi, akibat dari menjeritmu itu, membuat orang-orang di sekeliling menoleh dan melihat kita. Karena kaget bercampur malu dan takut dianggap sebagai pemuda cabul akibat dari menjeritmu itu, mentalku turun drastis. Super Saiya 4 pun lenyap. Akhirnya aku grogi. Kala itu, andai saja aku adalah Minato Namikaze, Hokage 4 Konohagakure, pastilah aku sudah menggunakan Hiraishin no Jutsu untuk berpindah tempat secara cepat dan sekejap melalui segel penghubung.

Berada pada kondisi seperti itu, bukannya kamu segera menjawab tapi malah tertawa, yang tentu juga diiringi dengan senyuman khas dua sentimu. Melihat senyummu dari sedekat itu, aku benar-benar yakin, seyakin-yakinnya Engkoh Felix Siauw dengan konsep khilafahnya, kalau tidak ada senyuman paling indah lagi selain senyum dua senti yang kamu punya. Sangat indah. Benar-benar indah dan sangat menyeduhkan hati. “Tapi siapa namamu, Si Pemilik Senyum dua senti?” Tanyaku dalam hati, sampai sekarang.

 

*Lelaki penikmat senja akibat gagal bercinta dengan matahari

Tinggalkan Balasan