Hujan Musim

Oleh: Putry kata

Ibu menggaruk hujan diakhir bulan
Yang ku tanya:
“Ibu, apa yang hendak kau harapkan?”
Ibu kata:“kematian para penjajah kehidupan”
Sembari menenteng hutang kembang pada dahan kematian
Ada saja sesajak patah yang ibu gantung dipintu depan
Sebagai bekal tanggal yang tinggal tanpa angka dialmanak, ujung pengharapan.

Lagi katanya, restu ayah dan ibu menikahi setiap sedekah
Doa-doa kuhitung tanpa nada, penuh sudah.
Sedari kemarau hingga penghujan, setiap neraka tampak sebegitu indah
Segala serba tiba-tiba
Seperti bintang menikahi senja
Atau bulan menalak malam, ada-ada saja
Setidaknya, kutunggangi waktu pada tujuh purnama
Dikesempatan tanpa masa yang bercerita didepan siapa
​:Hujan kali ini hadir tanpa musim
​Tertinggal diberanda, sendu tipu-menipu
​Sampaikan salam pada esok malam
​Sebab langit biru mulai melayu

Sepulang ibu menabur musim
Ada ayah dijendela terluka, menjilat darah
Dikarna kaca retak tanpa aba, tergeletak lihai penuh alim
Bayang ibu melihat iba ayah, gelisah
Senyum keduanya mabuk saling salim
​:Aku memilih bisu saja
​Sembari menenun musim beranak rasa
​Diluar kulihat rintik membawa panas
​Seperti rindu mengalun deras.

 

Puisi dimuat dalam buku antologi puisi bersama “Merantau Malam” oleh Sabana Pustaka, 20

Tinggalkan Balasan