Hilangnya Pusara Bapak

Oleh: Wildan Habibi

 

            Namaku Junaidi, Junaidi bin Hamid bin Abdullah bin …, hanya bapakku yang hafal nama-nama buyutku. Dan karena bapakku telah lama meninggal–semoga Tuhan mengampuni segala dosa-dosanya, maka urutan silsilah itupun tak ada yang tahu lagi. Kakak? Aku anak tunggal di keluargaku. Aku juga tak mengenal paman-pamanku. Jadi, aku hanya tahu nama kakekku. Untuk kakek buyutku, bapak dari kakek buyut, kakeknya, dan kakek buyutnya, aku tak pernah peduli. Yang penting aku tahu nama bapakku, dan nama bapak yang telah membesarkan bapakku sehingga menjadi bapak yang baik bagiku.

            Aku tak pernah mengenal ibuku melainkan hanya namanya, Subaidah. Bapak tak pernah bercerita tentang ibu. Dari tetanggaku aku tahu kalau ibu pergi ketika aku baru bisa disapih. Dan aku tak pernah membenci ibu. Justru aku bersyukur dia telah meninggalkanku, karena dengan itu aku justru semakin merasa anak bapakku, bapak yang sekaligus jadi ibu bagiku.

            Betapa sayangnya aku pada bapakku. Betapa bangganya aku padanya, meskipun dia hanya sebagai pengumpul kayu bakar. Ya, kami hidup dari kayu bakar yang dikumpulkan bapak dari hutan seberang desa. Dari hasil penjualan kayu bakar itu bapak menghidupi kami. Hutan bukan hanya nyawa bagi dunia, tetapi nyawa bagiku dan bapakku!

            Kenangan setiap senja sore hari ketika bapak baru pulang dari menjual kayu bakar yang dikumpulkannya sepanjang hari, tak akan hilang dari ingatanku. Masih teringat jelas peluh yang membasahi keningnya. Aroma hutan yang melekat di rambut dan lengannya selalu menyebar ke sudut-sudut rumahku dan membuat rumahku selalu dan selalu berbau hutan karena memang setiap hari bapak ke hutan dan setiap hari pula ia membawa aromanya pulang. Setelah membuatkan teh hangat, aku biasa duduk disampingnya sambil mendengarkan nasihat yang selalu diulangnya terus, teruuus, seakan itu sebagai nasihat terakhir dan oleh karenanya selalu menasihati dengan sungguh-sungguh, “Junaidi, betapa hutan telah memberikan kita makan. Junaidi, hutan… Hutan, Junaidi…”

            Sampai pada ketika aku menginjak remaja dan bapakku menjadi sakit-sakitan, aku sebagai anak satu-satunya, menghidupi kehidupan kami juga sebagai pencari kayu bakar. Aku jadi bisa merasakan apa yang dirasakan bapak. Memang benar hasil mencari kayu bakar tidak akan seberapa, tapi dengan mencari kayu bakar aku bisa merasakan nikmatnya aroma hutan, bisa merasakan betapa hutan telah mewarnai keningku, kening bapakku, kening semesta. Dengan mencari kayu bakar dari pohon-pohon yang tumbang, menurut nasihat bapak, aku juga ikut membersihkan hutan agar hutan tetap terlihat rapi. “Tuhan dan kupu-kupu akan senang jika melihat hutan-Nya(nya) bersih,” kata bapak.

            “Junaidi, anakku. Kalau aku mati, tempatkan pusaraku tepat di tengah rindangnya pohon jati di hutan seberang desa itu. Agar kelak ketika musim kemarau daun-daun jati kering bisa menyelimutiku, juga supaya aku tetap bisa bercengkrama dengan kupu-kupu dan burung dari dalam kuburku,” suatu ketika tiba-tiba bapak berbicara seperti itu. Aku tidak kaget ataupun sedih ketika bapak sudah berani berwasiat, karena bapak memang sudah tua dan sakit-sakitan, dan karena umur yang teralu panjang disertai kesehatan yang buruk hanya akan mempersusah si empunya tubuh. Namun yang membuat aku terharu tidak lain adalah betapa bapak sangat mencintai hutan. Lagi-lagi hutan yang disebutnya. Ah… bapak. Betapa tersenyum wajahnya saat itu, aku hanya bisa menunduk dalam dan mengangguk.

            Dan ketika bapak meninggal, aku menuruti wasiatnya.

            Banyak cerita terjadi mulai dari saat aku meninggalkan kampungku ke kota sampai sekarang ini. Dari awal aku pergi ke kota sebagai anak yang benar-benar sendiri dan miskin, hingga sekarang ini di saat aku telah beristrikan anak tunggal dari seorang pengusaha yang kaya. Dan setelah mertuaku meninggal, akupun menjadi penerus usahnya.

            Jujur, aku bangga dengan usahaku, meskipun hanya berupa warisan mertua. Setidaknya kalau dulu aku hanya mengumpulkan kayu-kayu kering kecil atau bisa juga membelah ranting-ranting pohon, sekarang aku bisa langsung menebang pohon. Ya, bisnisku sekarang bisnis menebang pohon!

            Seandainya saja bapak masih hidup, pasti dia bangga pada anak satu-satunya ini. Ingin sekali aku dengan membawa dada yang penuh kebanggaan berbisik halus kepada bapak, “Pak, ini anakmu, Junaidi bin Ahmad bin Abdullah, sekarang sudah tak susah susah mencari kayu bakar lagi, Pak. Sekarang anakmu bahkan langsung bisa menebang satu pohon. Ah tidak, Pak, selusin atau bahkan satu hutan pun bisa kutebang, Pak. Hutan memang sangat berguna, Pak.”

            Bapak pasti sangat bangga padaku.

            Kini aku sudah tak sabar ingin mengunjungi pusara bapak. Sudah lama aku tak pernah berkunjung, sudah sejak saat pertama aku meninggalkan kampung. Bahkan saat anak buahku memberikan kabar tentang lokasi baru penebangan kayu jati, yang katanya dekat dengan kampungku, aku tak meninjaunya untuk sekedar bisa mampir ke pusara bapak.

            Aku memang tak pernah terjun ke lapangan. Sudah aku tempatkan anak buah untuk mengatur semuanya. Ada bagian yang mencari lokasi baru, ada yang mengatur karyawan, ada yang mengatur penjualan, dan bahkan aku tak tahu persis lokasi hutan yang aku tebangi. Aku tinggal diam, sambil menunggu laporan hutan mana yang telah dan akan ditebangi, berapa balok pohon yang ditebang, diangkut dan diekspor.

            Waktuku hanya untuk bersama keluarga di rumah, atau sesekali pergi berlibur. Aku ingin menjadi bapak yang baik seperti bapakku yang disela-sela kesibukannya mencari kayu bakar dan menjajakannya ke pasar, masih bisa bercengkrama denganku di setiap senja. Betapa baiknya bapakku sebagai bapak, betapa baiknya juga aku sebagai bapak.

            Segala puji hanya bagi Tuhan yang telah memberikan karunia berupa rezeki yang banyak. Dari hari ke hari usahaku semakin maju. Syukurku tiada bisa terungkapkan atas semua karunia ini. Mungkin ini berkat do’a bapak atau memang balasan dari Tuhan atas kerja keras bapakku dulu mencarikan nafkah untukku. Sekarang aku telah membuka banyak proyek di banyak daerah. Banyak hutan yang telah aku tebangi. Karyawan perusahaanku juga semakin banyak. Betapa mulianya aku yang telah membuka banyak perkerjaan untuk orang-orang yang menganggur.

            Hari ini memang hari yang sudah aku rencanakan sejak sebulan yang lalu. Aku, istriku dan Naya, anakku, akan mengunjungi pusara bapak. “Pak, kini saatnya aku datang padamu. Biar engkau bisa melihat aku sukses, biar engkau bisa melihat menantu dan cucumu,” kata hatiku dengan haru dan bahagia. Aku terus berjalan menuju hutan di samping kampung asalku, hutan dimana terdapat pusara bapak di tengahnya.

            Ternyata hutan yang aku kunjungi baru saja ditebang oleh para pekerjaku. Terlihat para pekerja mengangkut potongan balok rezeki. Ranting-ranting terserak di mana-mana. Aku teruskan jalanku memasuki hutan, hutan yang sangat bersejarah bagiku, karena dengan lantaran hutan ini bapak menghidupiku, juga tepat dimana aku menggantikan bapak mencari kayu bakar dulu.

            Ya, tak salah. Tepat di tengah-tengah lingkaran pepohonan yang telah ditebang itulah bapak dikubur. Aku masih sangat hafal di mana pusara bapak. Batu besar yang dulu menjadi tempatku beristirahat setelah membersihkan pusara bapak, masih tetap di pinggiran lingkaran pepohonan itu.   Tapi, dimana gundukan tanah dan kedua nisan bapak?  Kenapa para pekerja meratakan semua tanah tanpa melihat ada pusara di tengahnya?

            Tiba-tiba masa laluku datang. Padanganku semu, antara apa yang kulihat sekarang dengan yang kulihat pada masa laluku yang penuh kenangan. Aku merasa kesulitan menghirup aroma hutan yang ingin kucoba dapatkan lagi seperti dulu. Aku mulai sadar bahwa bunga-bunga yang kutanam di pinggiran pusara bapak telah tiada. Para kupu-kupu juga entah pergi ke mana. Oh, Tuhan, apa yang telah diperbuat atas hutan ini.

            Aku mulai cepat mencari, meninggalkan istri dan anakku yang sedang melihat para pekerja memotong pohon. Aku masih tidak percaya pohon-pohon yang tumbang itu merusak pusara bapak. Kutelusuri terus sebidang tanah yang memang tak salah lagi tempat di mana bapak dikubur. Kusingkirkan ranting-ranting yang menutupi permukaan tanah, kupindahkan balok-balok pohon yang sudah ditebang. Semua itu kulakukan sendiri dengan harapan bisa cepat-cepat menemukan pusara bapak. Namun gundukan makam dan nisan bapak belum juga aku temukan. Semua terlihat rata.

            Aku terus mencari, akan tetap terus mencari dan tak akan aku mau berhenti sebelum menemukannya karena memang aku merindukan berkunjung ke pusara bapak. Apalagi sekarang aku mengajak anakku satu-satunya, agar dia bisa tahu di mana pusara kakeknya dan agar kakeknya juga bisa menyapa cucunya.

            Di tengah kepanikanku, tiba-tiba anakku di belakang menjerit, “Aaaarrgghh. Bapaaaaaak. Aku tersandung batu. Kakiku berdarah!”

            Tanpa pikir panjang aku berbalik dan melihat luka anakku yang cukup parah. Kepanikanku mencari pusara bapak, ditambah dengan dikagetkan oleh darah anakku, membuatku naik darah, tak bisa berpikir jernih. Dasar batu terkutuk telah berani melukai anakku satu-satunya. Emosiku memuncak. Batu jahanam!

            Kuaambil batu terkutuk yang telah melukai anakku untuk kemudian akan aku buang sejauh-jauhnya, agar tidak ada lagi yang bisa melihat batu itu dan supaya batu itu tidak adalagi di dunia untuk selamanya.

            Tapi darahku tiba-tiba berhenti, tubuhku mengambang dan mataku tak kuasa menahan air mata penyesalan setelah kubaca sebuah tulisan yang masih jelas di batu itu:

            “Ini pusara Hamid bin Abdullah.”

 

 

*Mahasiswa S1, Jurusan Sejarah, FIB,UGM, Asal Blega Bangkalan

(Cerpen ini juara 6 di Lomba Cerpen Balai Bahasa DIY 2016. Cerpen ini sudah dibubukan dalam antologi cerpen, “Usaha Bandu Berburu Hantu”.)

Tinggalkan Balasan